Sejarah Kelurahan Kaliombo


​📜 Sejarah Singkat Kelurahan Kaliombo, Kota Kediri

​Kelurahan Kaliombo merupakan salah satu wilayah yang memiliki akar sejarah dan perkembangan yang cukup khas di Kota Kediri. Nama "Kaliombo" sendiri mengandung makna yang kuat terkait kondisi geografisnya.

​1. Asal-Usul Nama "Kaliombo"

​Nama Kaliombo diyakini berasal dari gabungan dua kata dalam Bahasa Jawa:
  • "Kali": Berarti sungai.
  • "Ombo": Berarti lebar atau luas.
​Hal ini merujuk pada keberadaan sungai besar yang melintasi atau berada di dekat wilayah tersebut. Sungai yang dimaksud adalah Sungai Brantas, sungai terpanjang kedua di Jawa. Posisi Kaliombo yang berdekatan dengan tepi sungai utama atau anak sungai yang lebar (seperti Kalimombo) menjadi penanda geografis yang penting bagi masyarakat pada masa lalu, sehingga nama tersebut melekat hingga kini.

​2. Perkembangan Wilayah dan Infrastruktur

​Pada masa kolonial Belanda, Kediri tumbuh sebagai pusat perkebunan dan perdagangan, dan Kaliombo berperan dalam perkembangan infrastruktur kota:
  • Jembatan Ngagen: Salah satu penanda penting di Kaliombo adalah keberadaan jembatan yang melintasi anak sungai atau kali kecil menuju Brantas. Jembatan Ngagen Kaliombo (yang Anda sebutkan di narasi kedai kopi) merupakan salah satu penghubung penting yang mendukung mobilitas warga dan aktivitas perdagangan antara wilayah-wilayah di Kota Kediri.
  • Akses: Posisi Kaliombo yang tidak jauh dari pusat kota lama menjadikannya area penyangga yang berkembang seiring waktu, dengan permukiman yang semakin padat dan akses yang semakin baik.

​3. Kaliombo di Era Modern

​Di masa kini, Kelurahan Kaliombo dikenal sebagai wilayah yang padat penduduk namun tetap menjaga aspek komunalnya.
  • Pusat Kegiatan: Selain permukiman, wilayah ini memiliki berbagai fasilitas umum dan ruang terbuka. Taman Kaliombo menjadi salah satu landmark modern yang berfungsi sebagai paru-paru kota dan pusat interaksi warga.
  • Aktivitas Komunitas: Semangat gotong royong dan kekeluargaan tetap kuat di sini, terbukti dengan aktifnya organisasi kemasyarakatan seperti Karang Taruna yang kini mengelola Kedai Kopi Kaliombo. Kegiatan yang dilakukan pemuda ini menunjukkan bahwa Kaliombo tidak hanya mewarisi sejarah geografisnya, tetapi juga semangat pemberdayaan komunitas yang modern.
​Secara ringkas, Kelurahan Kaliombo adalah perpaduan harmonis antara warisan geografis (Sungai Ombo) dan semangat komunitas yang kuat, menjadikannya salah satu kelurahan yang dinamis di Kota Kediri.

SEJARAH SINGKAT DESA / KEL.KALIOMBO
 
Seperti Kelurahan lainnya Kaliombo berasal dari legenda dua Tokoh :
1) Lingkungan Corekan diambil dari nama tokoh yang babad tanah disana. Yaitu, telik sandi kerajaan Mataram Kiai Abdul Adim yang ubah namanya jadi Kiai Coreko.
2) Lingkungan Kaliombo diambil dari nama Letak Geografisnya yaitu konon dari sungai yang lebar + 200 m sebelah utara sungai Kaiombo sendiri dan sebelah selatan sungai Parung dan sungai Kaliombo membentuk delta lama kelamaan menjadi daratan dan sekarang menjadi sebuah kampung dan dari berbagai sumber , Tokoh yang berpegang peranan pada masa itu adalah sahabat dari Ki Ageng Coreko yaitu Ki Ageng Do Swolo .
Sebelum Kelurahan Kaliombo punya nama, Lingkungan Corekan lebih dahulu terkenal. Hal itu tak lepas dari pengembangan daerah Kaliombo yang ternyata bermula dari sana Adalah Kiai Abdul Adim, salah satu telik sandi kerajaan Mataram yang melarikan diri ke Kediri saat penjajahan Belanda ratusan tahun lalu. Begitu masuk ke Kediri, dia mengubah nama menjadi Kiai Coreko.
Jika di kerajaan Mataram pekerjaannya sebagai telik sandi, di Kediri Abdul Adim memilih untuk menyepi. Kemudian menyebarkan agama Islam. Berkat ketokohannya, lama kelamaan Coreko menjadi orang yang dekat dengan Adipati Kediri kala itu.
Karena kedekatannya, Kiai Coreko yang hobi memancing itu seringkali memberi ikan untuk sang adipati. "Setiap dapat ikan, ceritanya kalau tidak diberi ke adipati ya diberi ke masyarakat," ungkap Suparno, staf kelurahan Kaliombo.
Kedekatan Coreko dengan adipati itu, konon membuat Sang Tumenggung iri. Suatu hari, saat Coreko hendak memberi ikan pada adipati, sang Tumenggung mencegatnya. Dia meminta ikan itu dan berjanji akan memberikan pada adipati.
Kiai Coreko percaya saja dengan perkataan Tumenggung . Konon, karena rasa tidak suka itu, Tumenggung lantas memberi racun pada ikan-ikan hasil pancingan Coreko. Sehingga, saat ikan-ikan itu diberikan pada anjing atas saran Tumenggung pada adipati, anjing yang memakan-nya langsung mati.
"Setelah itu Kiai Coreko ditangkap," beber Suparno yang juga warga Kelurahan Kaliombo itu. Setelah ditangkap, Coreko dimasukkan dalam kurungan anyaman bambu berbentuk memanjang atau biasa disebutwuwu. Kemudian, dia dihanyutkan di Sungai Brantas.
"Kiai Coreko sempat bilang nggak apa-apa mati karena bambu. Biar bambu jadi sandang pangan anak turunku,"imbuh Suparno.
Karena mitos itu, sampai saat ini di lingkungan Corekan memang terlihat ada beberapa warga yang tetap menekuni kerajinan dari bambu. Tak hanya berkata itu, kiai Coreko juga sempat berpesan agar warga Corekan tak memainkan alat musik gong dengan cara digantung.
Hal itu tak lepas dari rasa sentimen Kiai Coreko terhadap Tumenggung yang menjadi penyebab kematiannya. Tumenggung dikenal sebagai pejabat yang suka berpesta dengan memanggil berbagai jenis pergelaran pertunjukan. Termasuk bunyi-bunyian dari gong.
 ( Kanjeng Tumenggung adalah sahabat dari KI Ageng Do Swolo karena ada kesamaan hoby/kelangenan yaitu kesenian jawa Ledek )
“Rejo-rejane zaman, aku ora jamin keselamatan warga yang menggantung gong," lanjut Suparno menirukan cerita yang beredar di masyarakat. Karena pesan Kiai Coreko yang masih dipercayai sampai sekarang banyak warga Corekan yang takut memainan kesenian yang ada alat musik gongnya. Sebab mereka khawatir akan terkena balak dari ucapan kiai itu.
Sepeninggalan Coreko karena dilarung di Brantas itulah, warga lantas menamai lingkungan mereka dengan Lingkungan Corekan yang bertahan sampai, sekarang. "Dulu wilayah Corekan luas. Sampai ke Jetis Baudendo (wilayah Kelurahan Ngronggo). Baru setelah pembentukan desa pada 1886, wilayah Corekan dibatasi tidak sampai ke sana," terang Suparno yang menggali berbagai cerita itu pada para sesepuh.
Seperti namanya, Kelurahan Kaliombo diambil dan sungai di daerah itu yang ratusan tahun lalu lebarnya sampai ratusan meter. Kini, sungai terbelah dua, menjadi Sungai Parung dan Tawang.
Di mana sungai yang lebarnya mencapai ratusan meter itu? Jika dicari sekarang, tentu saja sudah tak ada lagi. Wilayah Kelurahan Kaliombo dibelah oleh dua sungai yang ada di sisi selatan dan utara. “Yang selatan itu kami namai Sungai Parung. Kalau yang utara Sungai Kaliombo ,’' kata Suparno, staf Kelurahan Kaliombo.
Lalu, di mana letak sungai yang lebarnya ratusan meter itu? Suparno menyebut, dahulu kala, dua sungai itu menjadi satu. Yaitu, mulai masuk jalan tembus Kaliombo hingga ke tepi makam Kaliombo yang menjadi batas Sungai Parung.
Meski tak banyak lagi saksi hidup yang bisa membuktikan hal tersebut tetapi masih ada beberapa jejak yang bisa dilihat. Di antaranya saat masyarakat setempat membuat sumur.
 “Jika sudah sedalam sekitar empat meter, mereka pasti menemukan pasir hitam. Itu dulunya permukaan sungai," ungkap Suparno.
Menurut sejarah yang berkembang di masyarakat, sungai di Kaliombo dahulunya dimulai dari Kelurahan Kampung dalem yang menjadi batas utara Kelurahan Kaliombo. Sedangkan bagian selatan adalah Sungai Parung. Kemudian, di wilayah Tirtoudan yang disebut sebagai tebing sungai.
Tak hanya lebar, Sungai Kaliombo juga dikenal dalam. Sisa-sisanya seperti yang terlihat di Sungai Parung bagian timur. Di sana ada yang kedalamannya mencapai 8-10 meter.
Dari sanalah, kemudian masyarakat sepakat menamakan daerah tersebut sebagai Kaliombo atau sungai yang lebar. Lama-kelamaan, lebar sungai menyempit hingga timbul delta di tengah- tengahnya.
Delta tersebut, beber Supamo, lama-kelamaan ditumbuhi ilalang sebelum kemudian dihuni oleh masyarakat. Adalah Dosuwolo, salah satu teliksan di dari kerajaan Mataram, yang babat daerah tersebut.
Dia pula yang lantas menamai daerah berpasir itu menjadi Kaliombo sebelum dihuni oleh banyak orang. Semasa hidup, Dosuwolo disebut pernah mendirikan surau di daerah tersebut.
Jika saat ini Anda ingin melihat bekas Sungai Kaliombo, silakan mengamati lingkungan Klenik yang diapit oleh Sungai Parung dan Sungai Kaliombo. Meski lebar Sungai Parung hanya sekitar lima meter, tetapi sisa-sisa kedalaman sungai tersebut bisa terlihat jelas.
Sedangkan Sungai Kaliombo hanya terlihat seperti sungai kebanyakan. Apalagi, di sisi kanan dan kirinya kini sudah banyak ditumbuhi bangunan rumah yang rapat.
Kiageng Corekan masih dikenang oleh masyarakat Kaliombo dengan adanya Jalan Corekan Raya dan Bangunan Masjid Abdul Adhim
Sedankan Kiageng Doswolo pernah menjadi nama jalan Dosuwolan sekarang menjadi Jalan Mangga berada di RW.III Kelurahan Kaliombo.
 
 
 
PEJABAT YANG PERNAH MEMANGKU DESA/KALIOMBO

1. KARTOPO ...................................................1886
2. SALEH ....................................................... 1931
3. TAJEM ....................................................... 1952
4. JUWITO .......................................................1967
5. HADI SUROYO ............................................ 1973
6. MUKRI ........................................................ 1985
7. ABDUL QODIR ............................................. 1995
8. BAMBANG SANTOSO.................................. 2005
9. SAMSUL BAHRI ........................................... 2008
10. BAKTIAR ALI.S ........................................... 2009
11. SULISYANTO ............................................. 2010
12. UBAIDILLAH .............................................. 2011
13. TUGITO ..................................................... 2014
14. SUBAGIYO ................................................ 2016
15. HARIYONO ............................................... 2025
16. I GUSTI NGURAH WENTEN,ST…........…. SEKARANG